Arbitrase Selesaikan Sengketa Dengan Cepat

14 Februari 2011, 09:12, dibaca 29318 kali
Share |

oleh :
Meria Utama, SH., LL.M
Dosen Fakultas Hukum UNSRI

Umumnya Pengusaha ingin semua bisnis yang mereka lakukan berjalan lancer dan tanpa sengketa dengan pihak manapun. Namun, kalaupun terpaksa, mereka akan memilih cara penyelesaian yang efektif, cepat dan kalau perlu tidak diketahui oleh publik. Terdapat berbagai alas an keengganan para pelaku bisnis untuk berperkara di pengadilan karena berperkara melalui pengadilan negeri akan membuka aib perusahaan karena semua materi perselisihan bisa diketahui secara detail oleh publik karena sidangnya bersifat terbuka dan hal ini tentunya tidak baik bagi perusahaan karena tercemarnya reputasi yang mereka miliki.
Ada beberapa cara penyelesaian sengketa bisnis. Tapi, yang paling lazim dikenal masyarakat adalah melalui gugatan perdata melalui pengadilan, arbitrase dan mediasi. Masing-masing penyelesaian melalui lembaga itu memiliki kelebihan masing-masing. Proses mediasi, misalnya, sudah diperkenalkan kepada para pihak bersengketa oleh pengadilan. Namun, upaya ini dinilai kurang berjalan dengan baik. Setiap gugatan perkara yang masuk ke pengadilan negeri, maka hakim memberikan waktu selama satu bulan kepada para pihak untuk menempuh cara mediasi. Proses mediasi di pengadilan negeri ini difasilitasi oleh seorang mediator, yang berasal dari hakim di lingkungan pengadilan.
Selain mediasi di pengadilan, kini juga ada lembaga Pusat Mediasi Nasional (PMN). PMN adalah sebuah lembaga nirlaba yang didirikan oleh individu-individu dan mulai beroperasi sejak awal 2004. Lembaga ini membantu pengusaha menyelesaikan sengketa perdata dengan bantuan mediator yang memiliki keahlian di bidangnya masing-masing. Kehadiran jasa mediasi ini tak terlepas dari harapan dan tuntutan masyarakat, terutama kalangan dunia usaha terhadap mekanisme penyelesaian sengketa yang efisien dan efektif. Pengusaha merasakan proses cara penyelesaian sengketa melalui litigasi di pengadilan masih relatif lama. Untuk itulah mereka mencari wadah baru penyelesaian yang lebih cepat lagi.

Bersifat final
Arbitrase memiliki kelebihan karena putusannya bersifat final dan mengikat. Jadi, dari segi waktu, prosesnya relatif lebih cepat. Di dalam negeri, kini ada Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI). Lembaga ini memiliki banyak arbiter untuk menyelesaikan perselisihan bisnis. Di Singapura dikenal dengan nama Singapore International Arbitration Centre (SIAC). Selain itu, juga ada IIC Court of Arbitration, yang bermarkas di Paris. Lembaga tersebut di atas hanyalah sebagai contoh beberapa lembaga arbitrase di dunia. Sekarang, terpulang kepada para pihak yang bersengketa untuk memutuskan lembaga arbitrase mana yang dipilih untuk menyelesaikan perselisihan bisnis mereka. ICC Court banyak dipilih pengusaha di dunia karena lembaga ini sudah ada di 35 negara. Sedangkan bagi pengusaha dari Indonesia, menurut dia, lebih suka memilih arbitrase melalui SIAC karena di lembaga ini ada pilihan bahasa Indonesia selain Inggris dalam persidangan.
Menurut data ICC International Court of Arbitaratoin, pada periode Januari 2008-Januari 2009, tercatat 532 permohonan yang diajukan ke ICC Court. Dari, jumlah itu, sebagian besar berasal dari Eropa, 25% datang dari Amerika dan 18% dari Asia. Sebelum para pihak mengajukanpermohonan melalui lembaga arbitrase, ada baiknya para pihak yang berperkara untuk mempertimbangan biaya penyelesaiaian sengketa. “Biaya melalui arbitrase relatif lebih mahal dibandingkan dengan gugatan perdata biasa, tapi besarannya pasti.” Sekadar perbandingan, biaya pendaftaran mengajukan gugatan perdata melalui pengadilan di dalam negeri saat ini berkisar Rp1 juta, untuk banding ke pengadilan tinggi berkisar Rp2 juta, sedangkan kasasi ke Mahkamah Agung berkisar Rp4 juta, belum lagi fee untuk pengacara, yang besarnya tergantung kepada kesepakatan para pihak “Biaya resmi berperkara di pengadilan memang lebih murah. Tapi, jangan lupa biaya itu bisa membengkak jumlahnya karena banyaknya ‘biaya siluman’. Kalau dijumlah, biaya berperkara di pengadilan bisa lebih besar ketimbang melalui arbitrase. Biaya penyelesaian melalui ICC Court tergantung kepada besar klaim yang diajukan. Sekadar contah, bila klaim yang diajukan oleh pihak berperkara US$1 juta, maka biayanya adalah US$16.800 untuk administrasi dan US$32.375 untuk biaya arbiter atau 4,9% dari jumlah klaim. Bila klaim yang diajukan oleh pihak berkisar US$256 juta, maka biaya administrasi adalah sebesar US$53.300, dan fee untuk arbiter US$315.900 atau 1,5% dari total klaim.

Relatif singkat
Sedangkan dari segi waktu, penyelesaian melalui arbitrase bisa selesai dalam kurun waktu enam bulan, bandingkan dengan melalui pengadilan yang bisa bertahun-tahun. Sekadar perbandingan, penyelesaian perkara perdata di tingkat pengadilan negeri berkisar enam bulan, di tingkat pengadilan tinggi berkisar satu tahun. Di tingkat Mahkamah Agung, tidak ada patokan waktu yang pasti penyelesaian perkara. Umumnya diselesaikan dalam jangka waktu tiga sampai empat tahun.
Dalam pelaksanaan putusan arbitrase asing di dalam negeri sebenarnya pun tidak ada lagi masalah karena Indonesia sudah meratifikasi New York Convention, yang mengakui putusan arbitrase. Eksekusi putusann arbitrase di dalam negeri sudah diatur melalui Peraturan Mahkamah Agung, yang antara lain mengatakan bahwa Indonesia mengakui putusan arbitrase. Misalnya putusan BANI. Salinan putusan BANI dikirim ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, kemudian pengadilan negeri mengeluarkan penetapan. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah semua putusan arbitrase harus dimintakan penetapan pengadilan untuk pelaksanaan eksekusinya? “Teorinya, putusan arbitrase dilakukan secara sukarela. Tapi, supaya ada enforcement, maka pelaksanaannya di dalam negeri melalui pengadilan.” Sekarang, tergantung kepada para pengusaha untuk menentukan pilihan apakah melalui arbitrase, mediasi atau pengadilan. Yang jelas, proses penyelesaian sengketa bisnis melalui arbitrase memiliki keuntungan yaitu aktivitas bisnis tidak teganggu, sementara perselisihan berhasil diatasi dan relasi bisnis tetap terjaga.
Putusan yang dihasilkan melalui proses arbitrase adalah win-win solution karena didasarkan atas kesepakatan para pihak yang besengketa. Kedua pihak sama-sama merasa puas.
Beda dengan pengadilan yang membuat putusan ada pihak yang menang dan ada pihak yang kalah. Konotasi menang kalah ini saja sudah menunjukkan ada pihak yang dituntungkan dan ada pihak yang dirugikan.
 



Komentar:

16 Oktober 2012, 16:12
Demelza:
<url>http://dockpartner.com/|cheap auto insurance</url> >smile <url>http://www.bestcreditcardoffers4you.com/|low interest credit cards</url> kis

Send Your Comment:

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion