Penggunaan Mata Uang Lokal ASEAN

22 Juni 2011, 14:47, dibaca 1766 kali
Share |

Oleh:
Kiki Eka Sari
Mahasiswa Hukum Internasional 2008

 

ASEAN (Associasion of south east ASEAN berdiri pada tahun 1967 di tengah situasi regional dan yang sedang berubah. Pada awal pembentukannya ASEAN hanya terdiri dari lima negara yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura dan Filiphina dan sampai sekarang ASEAN sudah berjumlah 10 negara anggota. Walaupun masing-masing negara anggota berbeda satu sama lain dalam hal bahasa, budaya, agama, geografi, etnisitas dan pengalaman sejarah, hubungan antaranggota secara bertahap menumbuhka rasa kebersamaan. Perjanjian persahabatan dan kerjasama (Treaty of Amity and Cooperation) yang ditandatangani pada pertemuan puncak ASEAN yang ditandatangani pada tahun 1967 di Bali disebut sebagai wujud dari nilai-nilai global yang mendasari pembentukan organisasi regional.

Selama empat dekade keberadaannya, ASEAN telah mengalami banyak perubahan serta perkembangan positif dan signifikan yang mengarah pada pendewasaan ASEAN. Kerjasama ASEAN kini menuju tahapan baru yang lebih integratif dan berwawasan ke depan dengan akan dibentuknya Komunitas ASEAN (ASEAN Community) pada tahun 2015. Hal ini diperkuat dengan disahkannya Piagam ASEAN (ASEAN Charter) yang secara khusus akan menjadi landasan hukum dan landasan jati diri ASEAN ke depannya.

Pembentukan Komunitas ASEAN diawali dengan komitmen para pemimpin ASEAN dengan ditandatanganinya ASEAN Vision 2020 di Kuala Lumpur pada tahun 1997 yang mencita-citakan ASEAN sebagai suatu komunitas yang berpandangan maju, hidup dalam lingkungan yang damai, stabil dan makmur, dipersatukan oleh hubungan kemitraan dalam pembangunan yang dinamis dan masyarakat yang saling peduli. Tekad untuk membentuk Komunitas ASEAN kemudian dipertegas lagi pada KTT ke-9 ASEAN di Bali pada tahun 2003 dengan ditandatanganinya ASEAN Concord II. ASEAN Concord II yang menegaskan bahwa ASEAN akan menjadi sebuah komunitas yang aman, damai, stabil, dan sejahtera pada tahun 2020.

Negara-negara ASEAN menyadari perlunya meningkatkan solidaritas, kohesivitas dan efektifitas kerjasama. Kegiatan kerjasama dalam ASEAN tidak lagi hanya terfokus pada kerjasama ekonomi namun juga harus didukung oleh kerjasama lainnya di bidang keamanan dan sosial budaya. Untuk menjaga keseimbangan itu, pembentukan Komunitas ASEAN 2015 berlandaskan pada 3 pilar, yaitu Komunitas Keamanan ASEAN (ASEAN Security Community), Komunitas Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community), dan Komunitas Sosial Budaya ASEAN (ASEAN Socio-Cultural Community). Ketiga pilar tersebut saling berkaitan sagtu sama lain dan saling memperkuat tujuan pencapaian perdamain yang berkelanjutan, stabilitas serta pemerataan kesejahteraan di kawasan. Di dalam pernyatakan ASEAN corcord II pada point ke tiga tentang masyarakat ekonomi ASEAN merumuskan bahwa: “Masyarakat Ekonomi ASEAN akan membentuk ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi, mengubah keragaman yang menjadi ciri khas daerah menjadi peluang bagi komplementasi bisnis membuat ASEAN segmen lebih dinamis dan lebih kuat dari rantai pasokan global. Strategi ASEAN terdiri dari integrasi ASEAN dan meningkatkan daya saing ekonomi ASEAN. Dalam bergerak menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN, ASEAN, antara lain, mekanisme lembaga baru dan langkah-langkah untuk memperkuat pelaksanaan inisiatif yang ada ekonomi termasuk ASEAN Free Trade Area (AFTA), Persetujuan Kerangka Kerja ASEAN di Bidang Jasa (AFAS) dan Kawasan Investasi ASEAN (AIA); mempercepat integrasi regional dalam sektor-sektor prioritas; memfasilitasi pergerakan orang bisnis, tenaga kerja terampil dan bakat, dan memperkuat mekanisme kelembagaan ASEAN, termasuk perbaikan Sengketa ASEAN Mekanisme Penyelesaian yang ada untuk memastikan resolusi cepat dan mengikat secara hukum dari ekonomi perselisihan. Sebagai langkah pertama menuju terwujudnya Masyarakat Ekonomi ASEAN, ASEAN harus melaksanakan rekomendasi dari Tinggi Tingkat Satuan Tugas Integrasi Ekonomi ASEAN sebagai dianeksasi.”
Sebagai tindak lanjut dari rumusan point ke tiga itu maka Masyarakat Ekonomi ASEAN didasarkan pada konvergensi kepentingan di antara anggota ASEAN untuk memperdalam dan memperluas upaya integrasi ekonomi melalui inisiatif yang ada dan baru dengan jadwal waktu yang jelas. Salah satu inisiatif baru yang baru menjadi isu adalah penggunaan mata uang lokal dalam ASEAN dan ASEAN plus yaitu Jepang, Korea dan China.

Di dalam Hanoi of Plan mengatakan secara jelas terhadap visi dan misi ASEAN sebagai pendukung resmi ASEAN concord II yaitu “Dalam pengakuan atas kebutuhan untuk mengatasi situasi ekonomi saat ini di wilayah tersebut, ASEAN harus melaksanakan inisiatif untuk mempercepat pemulihan ekonomi dan mengatasi dampak sosial dari krisis ekonomi dan keuangan global. Langkah-langkah ini menegaskan komitmen ASEAN untuk integrasi regional lebih dekat dan diarahkan untuk mengkonsolidasi dan memperkuat fundamental ekonomi Negara Anggota.” Salah satunya adalah memperkuat kerjasama dan keuangan makroekonomi dengan cara Mengembangkan pasar keuangan dalam dan cairan untuk memungkinkan pemerintah dan perusahaan swasta untuk meningkatkan pendanaan jangka panjang dalam mata uang lokal, sehingga mengurangi ketergantungan pada keuangan atas bank dan membatasi risiko krisis keuangan.

Dalam hal mata uang, Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Jakarta 7-8 Mei ini tidak membicarakan kemungkinan pembentukan mata uang bersama seperti yang dilakukan Uni Eropa. ASEAN lebih menekankan penggunaan mata uang lokal dalam setiap transaksi perdagangan yang dilakukan. Setiap Pemerintah di 10 negara ASEAN harus mendorong bank-bank sentral mereka untuk mematangkan rencana perjanjian pertukaran mata uang secara bilateral antarsesama negara ASEAN. Dengan perjanjian tersebut, transaksi perdagangan antarnegara ASEAN dapat menggunakan mata uang lokal negara tersebut secara langsung. pentingnya bank-bank sentral di negara-negara ASEAN (Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara) mempelajari kemungkinan untuk bisa melakukan dan mempersiapkan fasilitas perjanjian pertukaran mata uang bilateral (bilateral swap agreement/BSA). BSA itu maksudnya pertukaran dengan menggunakan mata uang local. dengan adanya perjanjian antarnegara ASEAN atau antara sepuluh negara ASEAN dan Jepang, Korea Selatan, dan China, perdagangan dapat menggunakan yen, yuan, atau won secara langsung. Namun, untuk mencapai hal tersebut, setiap bank sentral harus saling terkait satu sama lain.



Komentar:

22 September 2011, 11:10
Kiki Eka Sari:
yodi: alhamdulillah ini tulisan sendiri.. monbae: iya klo isu ini resmi disahkan oleh ASEAN.. Adian : sama- sama dek smile

14 Juli 2011, 16:26
Yodi:
Ini tulisan copy paste atau tulisan sendiri, btw ini tulisan bagus banget

12 Juli 2011, 14:09
monbae:
kalo seperti itu adalah lebih tepat namanya mata uang regional ASEAN

04 Juli 2011, 23:43
Ardian:
informasinya mkasi kk cheese LOL

Send Your Comment:

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion